Ayah, Kisah Buya Hamka
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_boJNKjZh4ljIVrjo3lxMs_DvkWwplZlXVvkhVp7s3DVLyx6v5IplNQWOcj2hbPaWoQ2UlRjUKgBpHGbqTYSkHJkRJdTV1l9wxj_r4SfkITM1ihBNhSmgcMD6wREBCn0qexb-Sdn914wX/s72-c/Ayah.jpg
Rp 49.000
SINOPSIS BUKU :
Judul
|
:
|
Ayah Kisah
Buya Hamka
|
Penulis
|
:
|
Irfan Hamka
|
Penerbit
|
:
|
Republika
|
isi
|
:
|
321 Halaman
|
ISBN
|
:
|
978-602-899-771-3
|
Ukuran
|
:
|
13,5 cm x 20,5
cm
|
Harga
|
:
|
49.000
|
SINOPSIS BUKU :
BUYA HAMKA.
Nama besar ini bukan hanya dikenal sebagai ulama besar, melainkan juga sebagai
sastrawan, budayawan, politisi, cendikiawan, dan pemimpin masyarakat. Ketokohan
serta keagungan karyanya membuat banyak orang tertarik untuk mengabadikannya. Melalui
penuturan anak kelimanya, Irfan Hamka, Republika Penerbit ingin mengenal sosok
besar Hamka, namun dari sisi yang lebih dekat; Buya Hamka sebagai seorang ayah,
suami, dan kepala keluarga.
Buku Ayah…
menyuguhkan banyak kenangan, pengalaman, dan kisah luar biasa yang mungkin tak
akan kita peroleh selain dari orang-orang terdekatnya. Dan, Republika Penerbit
merasa beruntung bisa “mendengarnya” langsung dari Penulis, lantas
menyampaikannya kepada pembaca. Semoga pembaca pun dapat memperoleh manfaat dengan
membacanya.
Berikut sebagian kecil
nasihat dan pengalaman yang dikenang oleh Irfan Hamka selama 33 tahun
kebersamaannya dengan Buya Hamka, sang ayah. Kisah-kisah dalam buku Ayah… akan
membawa pembaca mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka dari sisi yang berbeda.
“Ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong. Pertama,
orang itu harus memiliki mental baja, berani, tegas, dan tidak ragu-ragu untuk
berbohong. Jangan seperti kamu tadi. Kedua, tidak pelupa akan kebohongan yang
diucapkannya. Ketiga, harus menyiapkan bahan-bahan perkataan bohong untuk
melindungi kebenaran bohongnya yang pertama. Contoh, ada seorang teman bertanya
kepada temannya, ‘Tadi hari Jum’at shalat di mana?’ Si teman yang ditanya
sebenarnya tidak ikut shalat berjamaah Jum’at, namun karena malu, dia
berbohong, lalu menjawab, ‘Di Masjid Agung’. Si teman yang bertanya kembali
bertanya, ‘Di lantai mana kau shalat?’ Yang ditanya kembali menjawab, ‘Di
lantai bawah’. Bertambah lagi bohongnya. ‘Saya juga di lantai bawah, kok. Tidak,bertemu?’
Dengan mantap yang ditanya menjawab, ’Saya di saf paling belakang’. Coba kau
hitung, Irfan! Untuk melindungi bohongnya, berapa kali dia menambah bohong agar
temannya percaya bahwa dia memang shalat di Masjid Agung? Mengerti kau, Irfan,
akan cerita Ayah ini?” –Halaman 10.
***
Atau kisah tentang perjalanan
maut di Padang Pasir.
Mulanya, gulungan angin
bercampur pasir itu masih berjarak sekitar dua kilometer di belakang kami.
Umar, sopir kami, menambah kecepatan mobil dari 100, 110, lalu 120 mill per
jam. Mobil terasa melayang di atas jalan raya.
Namun, angin pasir itu
lebih cepat menyusul. Badan mobil terdengar seperti disiram oleh pasir. Suara
gemuruh angin terdengar di dalam mobil kami. Seperti ada ribuan suara siulan
yang mengepung mobil kami. Ayah terus menyebut nama Tuhan, “Allah, Allah”.
Aku pun mengikuti ucapan
Ayah, “Allah, Allah, Allah”. –Halaman 137-138.

Posting Komentar