Beginilah Rasulullah Berbisnis
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXvMkesKR0AgC4EB9d6ICU8XLo5auy_rCzSs0LXZ0i1tO6Ch8wuCwTt72fvFYeH2yUuOO8gKuCcZMTtFg5iX06iyA3e8NiZ8OmeWwQLIqLu6J6gaAQfxL001dyhfIIC_UvanJp9RswJMkB/s72-c/Beginilah+Rasulullah+Berbisnis.jpg
Rp 78.000
|
Judul
|
:
|
Beginilah Rasulullah Berbisnis
|
|
Penulis
|
:
|
Hepi Andi Bastoni
|
|
Penerbit
|
:
|
Pustaka al-Bustan
|
|
Isi
|
:
|
313 Halaman
|
|
ISBN
|
:
|
978-979-1324-038
|
|
Ukuran
|
:
|
11.5 x 19.5 cm
|
|
Harga
|
:
|
78.000
|
Sinopsis Buku :
Jika
kita perhatikan, sejak 1000 tahun lalu terjadi pergeseran di kalangan pemegang
kekuasaan. Jika pada tahun 1000-an Masehi, kekuasaan berada di tangan kaum
rohaniawan yang secara kebetulan adalah beberapa orang yang mampu membaca dan
menulis. Lalu, pada tahun 1445, mesin cetak ditemukan. Pengetahuan pun bisa
menyebar ke banyak kalangan. Kekuasaan pun berpindah dari tangan agamawan ke
tangan politikus. Untuk mempertahan kekuasaannya, para politikus membutuhkan
birokrat. Lama kelamaan, kekuasaan bergeser perlahan dari politikus ke birokrat
dan militer.
Pada
tahun 1995, ekonomi menjadi begitu penting sehingga menyebabkan runtuhnya
beberapa pemimpin politik dan militer. Di Indonesia, Soeharto mengalami hal
yang sama. Habibie dari kalangan cendekiawan tidak bisa bertahan. Gus Dur yang
mewakili kalangan agamawan juga runtuh. Megawati Soekarno Putri yang mewakili
kalangan bangsawan juga tak bisa bertahan.
Jika
dilihat trendnya, ke depan panggung kekuasaan akan dikendalikan oleh para
pengusaha. Di Indonesia, kepemimpinan Presiden SBY sebagai seorang militer, tak
mungkin bertahan lama. Ini harus terjadi jika sebuah bangsa ingin maju. Ini
fakta sekaligus keharusan. Apalagi bagi negara yang sudah memberlakukan
pemilihan langsung. Untuk menjadi bupati, walikota, gubernur, apalagi presiden,
dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Dan itu hanya dimiliki oleh para
pengusaha
,
bukan politikus, militer atau birokrat.
Dalam
konteks Indonesia, kaidah ini harus segera diwujudkan jika ingin Indonesia
bangkit. Indonesia jangan lagi dipimpin militer, birokrat, atau politikus. Ia
harus dipimpin oleh pengusaha sukses. Pemimpin pengusaha lah yang bisa membawa
Indonesia bangkit. Tentu pengusaha yang bermoral dan bukan yang suka menindas
buruh.
Mantan
Presiden Soeharto, mungkin berhasil memajukan sisi pertanian Indonesia, tapi
tidak di sektor ekonomi dan usaha secara menyeluruh. Kita swasembada beras,
tapi tidak sampai mengekspor. Kita berhasil mengembangkan ternak sapi, tapi
tidak sampai seperti Australia. Mengapa? Karena pemimpin kita tidak memiliki
visi bisnis untuk mengelola bangsa ini.
Pemimpin
yang memiliki visi bisnis itu selalu akan berpikir untuk mengembangkan sesuatu
dari sedikit menjadi banyak. Ia selalu berpikir untung. Makanya, kita perlu
pemimpin berjiwa pengusaha sukses yang memiliki visi bisnis dan berpikir
kerakyatan. Ia maju bersama orang banyak. Sisi lainnya, ketika seorang pebisnis
atau pengusaha itu naik ke panggung ke kekuasaan, dia diharapkan tidak korupsi.
Sebab, ia sudah kaya dan karenanya ia juga harus bermoral. Yang dimaksud
pemimpin di sini, bukan semata presiden, tapi gubernur, walikota, bupati dan
lainnya. Mereka harus memiliki visi bisnis. Negara maju itu,
pemimpin-pemimpinnya adalah orang-orang kaya yang berwirausaha. Bukan
orang-orang kaya yang tidak jelas dari mana uangnya. Sebanyak 70% gubernur dan
senator di Amerika itu adalah pengusaha. Politikus hanya 10%.
Idealnya,
sebuah negara memiliki 4%-7% dari penduduknya yang menjadi pengusaha. Saat ini,
Indonesia baru memiliki 400 ribu pengusaha alias hanya 0,2% dari total 230 juta
penduduknya. Indonesia seharusnya memiliki minimal sembilan juta pengusaha!
Jadi, peluang menjadi pengusaha masih terbuka lebar.
Namun
pengusaha bukan sembarang pengusaha yang visinya semata untuk memperkaya
diri. Indonesia memerlukan pengusaha yang berpikir untuk kepentingan orang
banyak. Kegiatan bisnis yang dilakukan harus menghasilkan kebaikan. Bisnis yang
dilakukan harus terwarnai dengan nilai-nilai etika.
Dalam
Islam, spirit wirausaha justru begitu jelas. Islam mengajarkan kepada umatnya
untuk bekerja dengan tangannya sendiri. Nabi saw sendiri memuji para pedagang
yang jujur. Dalam bentangan sejarah, Nabi saw dan para sahabatnya adalah pelaku
bisnis yang sukses. Memang, salah satu aspek kehidupan Nabi Muhammad saw
yang kurang mendapat perhatian serius adalah kepemimpinan beliau di bidang
bisnis dan entrepreneurship. Muhammad saw lebih dikenal sebagai seorang rasul,
pemimpin masyarakat atau “negara”, dan pemimpin militer. Padahal, sebagian
besar kehidupannya sebelum menjadi utusan Allah SWT adalah sebagai seorang
pengusaha. Muhammad saw telah memulai merintis karir dagangnya ketika berumur
12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini
terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu (beliau berusia sekitar
37 tahun). Dengan demikian, Muhammad saw telah berprofesi sebagai pedagang
selama ± 25 tahun ketika beliau yang berlangsung selama ± 23 tahun. Muhammad
SAW adalah seorang pengusaha sukses.
Aspek
bisnis Muhammad saw ini juga luput dari perhatian kebanyakan orientalis.
Mungkin karena dianggap kurang kontroversial dan tidak menarik dalam perdebatan
teologis, maka sebagian mereka hanya sering melancarkan serangan terhadap
pribadi Muhammad saw tapi jarang mengkaji secara mendalam perilaku bisnis
beliau. Untuk itu, buku ini hadir guna mengupas aspek bisnis Nabi saw.
Secara
umum buku terbagi dua bagian besar: Bab I, Bab II, dan Bab III diperuntukkan
bagi Anda calon pengusaha. Dipaparkan bagaimana posisi harta dalam Islam,
mengapa kita harus kaya dan tak boleh miskin serta apa yang harus kita siapkan
untuk pindah ke quadrant business owner. Sedangkan Bab IV dan V diperuntukkan
bagi pengusaha. Selain memaparkan tentang bagaimana Nabi saw sebagai pebisnis,
juga dijelaskan etika apa saja yang harus diperhatikan oleh para pengusaha.
Jadi, buku ini sengaja diperuntukkan bagi calon pengusaha dan para pengusaha.

Posting Komentar